Rabu, 25 Januari 2012

Menghapus Ketakutan Tanpa Obat




Peneliti AS telah menemukan cara terbebas dari obat untuk memblokir kenangan menakutkan, seperti masalah gangguan stres pasca trauma.

Penelitian pada tikus, menunjukkan bahwa mengaktifkan kembali memori dengan menunjukkan benda-benda yang merangsang memori menakutkan, dapat membuka jendela waktu tertentu di mana memori dapat diedit sebelum disimpan lagi.
 
"Sebelum kenangan tersimpan, ada periode di mana mereka rentan untuk menjadi terganggu" kata Elizabeth Phelps dari New York University, yang hasil studinya dimuat dalam jurnal Nature.
Penelitian sebelumnya telah menunjukkan bahwa obat dapat digunakan untuk memblokir kenangan menakutkan, tetapi hasilnya tidak tahan lama.
 
Penelitian mereka juga menunjukkan, bahwa kenangan lama dapat diubah atau reconsolidated, tetapi hanya selama jendela waktu tertentu. Waktu itu berkisar antara 10 menit sampai 6 jam kemudian. Setelah itu, memori sekali lagi disimpan di otak.
 
Para peneliti menerapkan temuan ini kepada orang-orang dalam setting lab. Pertama, mereka menciptakan memori menakutkan dengan menunjukkan relawan persegi biru, dan kemudian memberikan kejutan ringan. Begitu mereka telah menciptakan memori ketakutan, mereka hanya menunjukkan kotak biru, yang mengingatkan mereka dari memori rasa takut.
 
Tim menunggu 10 menit dan kemudian mulai periode pelatihan di mana para relawan berulang kali terkena kotak biru tanpa kejutan.

 
Kelompok kedua yang terkena kotak biru tanpa periode 10 menit menunggu, terus menunjukkan ketakutan ketika terkena kotak biru.
 
Ketika membawa kembali pada kenangan ketakutan setahun kemudian, kelompok yang mendapat pelatihan tidak menunjukkan respons rasa takut, yang dilacak oleh perubahan pada kulit. Sedangkan relawan lain terus memiliki respon rasa takut. Phelps mengatakan aspek penting dari penelitian ini adalah jendela waktu.
 
Cara memulihkan memori yang menakutkan adalah hanya dengan melawannya, yaitu menciptakan memori baru yang bersaing dengan memori lama,pada waktu yang tepat, kata Phelps. Hanya saja, terapi ini belum dapat diterapkan segera pada yang mengalami masalah kecemasan yang parah, seperti stres pasca trauma.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar